Ibarat seperti
sebuah komputer, dapat berfungsi jika didalamnya ada yang disebut dengan
software. Begitu pula manusia, manusia dapat berfungsi jika didalamnya terdapat
ilmu atau pemahaman yang membuatnya dapat bekerja. Karena pada esensinya semua
yang namanya ciptaan itu dibuat adalah untuk bekerja, jika suatu ciptaan tidak
dapat bekerja sesuai dengan kehendak pencipta maka benda tersebut dikatakan
rusak. Sama halnya dengan manusia, manusia diciptakan adalah untuk mengabdi/beribadah
yang secara makna sederhananya adalah bekerja. jika manusia bekerja tidak
sesuai dengan keinginan penciptanya maka manusia tersebut sedang berbuat rusak.
Nah untuk itulah Alloh sebagai penciptanya manusia menurunkan Al Quran sebagai
petunjuk hidup bagi manusia agar manusia tidak berbuat kerusakan di Bumi ini.
Namun pada
kenyataannya ternyata betapa banyaknya manusia yang merasa telah berbuat benar
menurut pandangannnya sendiri. Manusia telah berani mencari kebenaran yang
datang dari selain Alloh. Padahal suatu kebenaran yang datangnya dari seorang
pribadi adalah kebenaran yang dapat menjerumuskan kita kepada kesesatan. Hal
inilah sebenarnya telah diperingatkan Alloh dalam 7/3.
Nah kebenaran
yang yang datangnya dari manusia seperti ini karena saking banyaknya sehingga dari
saking banyaknya kebenaran-kebenaran manusia kemudian manusia memabuat
kesepakatan untuk menentukan suatu kebenaran sehingga terjadi yang namanya
kebenaran yang bersifat objektif. Bahkan yang lebih parah lagi kebenaran
seperti ini diturunkan secara turun temurun dari nenek moyang manusia. Sehingga
saat ini manusia hidup bukan lagi berdasarkan kebenaran dari Alloh, namun hidup
berdasarkan dengan kata orang. Hal ini sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup
manusia, karena justru malah memunculkan
berbagai macam problem yang komplek dan seolah tidak ada ujung
penyelesaiannya. Sehingga pada titik klimaksnya muncul bencana-bencana alam
maupun sosial yang disebabkan problem yang kompleks tadi.
Padahal sebenarnya jika kita mau
membuka Al Quran kembali sebenarnya Alloh telah memberi peringatan kepada
manusia melalui ucapan Rosulnya. Yaitu:
“Telah aku tinggalkan 2 perkara
yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya niscaya tidak akan tersesat
selama-lamanya, (dua perkara)Itu adalah Kitabulloh dan Sunnah Rosul”
Hal ini diperkuat dengan ayat
Alquran Qs.7/3
Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan
janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. amat sedikitlah kamu
mengambil pelajaran (daripadanya).
Perlu ditekankan
kembali bahwa pada dasarnya manusia diciptakan adalah untuk mengabdi atau
beribadah kepadanya. Kata beribadah disini dapat kita sinonimkan dengan kata
mengabdi atau bekerja. Ibarat orang yang akan bekerja maka orang tersebut harus
tahu terlebih dahulu peraturan-peraturan dalam bekerja. Begitupun dengan orang
beribadah maka harus tahu terlebih dahulu aturan atau cara beribadahnya.
Hal pertama yang harus dipahami
manusia ketika beribadah, dia harus kenal terlebih dahulu kepada siapa dia
mengabdi atau beribadah. Jangan sampai kita tidak tahu siapa yang menjadi bos dalam
ibadah kita. Jadi pada intinya kita harus mengenal Alloh terlebih dahulu. Kita
harus tahu apa yang disukai Nya dan apa yang dibenci oleh Nya. Telah sama-sama
kita tahu bahwa suatu perbuatan yang paling dibenci Alloh, paling besar dosanya
yaitu adalah MUSYRIK kepada Alloh. Maka berarti kita harus tahu terlebih dahulu
seperti apa yang dimaksud dengan musyrik berdasarkan penjelasan Alloh di dalam
Al Quran.
Mengenal Alloh
Musyrik makna
secara bahasa adalah menduakan, mempersekutukan, mempersamakan, membandingkan atau
menganggap sama sesuatu dengan sesuatu yang lain. Jadi semisal ada sebuah
seorang ingin menulis dengan spidol warna merah, tetapi karena spidol warna
merahnya hilang kemudian orang itu menulis dengan spidol warna hijau. Nah
ketika seseorang ini memakai spidol warna hijau padahal seharusnya dia memakai
spidol warna merah, maka orang ini sedang mempersekutukan spidol merah.
Namun yang
menjadi suatu larangan disini adalah kita mempersekutukan Alloh. Sebelum kita
perjelas seperti apa mempersekutukan Alloh maka kita harus tahu Alloh itu seperti
apa. Karena yang namanya mempersekutukan harus jelas apa yang dipersekutukan.
Kita mengenal Alloh pasti bukan karena kita pernah melihat Alloh namun karena
kita telah melihat hasil ciptaannya atau bekas-bekas pekerjaannya. Meskipun
kita belum pernah bertemu dengan Alloh kita pasti mempercayai Alloh. Hal ini
sama halnya ketika kita percaya bahwa pernah ada seorang ilmuwan fisika yang
bernama Albert Einstein, kita tahu namanya dan kita yakin pernah ada dia.
Padahal kita belum pernah bertemu bahkan sejamanpun tidak. Kita percaya adanya
dia karena hasil-hasil karyanya yang sangat terkenal.
Begitupun kita
yakin adanya Alloh bukan karena kita pernah bertemu dengan Alloh, kita percaya
adanya Alloh karena adanya ciptaan-ciptaannya. Artinya kita percaya kepada
Alloh karena adanya peranan peranan Alloh di alam semesta ini. Siapa yang dapat
mengatur matahari terbit di timur tenggelam di barat jika bukan Alloh. Jadi
pada dasarnya kita yakin adanya Alloh dengan peranan yang belaku di alam
semesta ini. Adapun peranan Alloh yang sangat nampak yaitu adalah peranan Alloh
sebagai Robb, Malik, Illah.
Robb
Peranan Alloh
sebagai robb yaitu peranan dia sebagai sang pengatur alam semesta, yang mengatur
keberlangsungan kehidupan makhluk hidup di seluruh alam semesta. Bentuk dia
sebagai sang pengatur adalah adanya Alloh menetapkan suatu aturan kepada
makhluknya sesuai kadarnya. Air selalu mengalir dari tempat yang tinggi
ketempat yang rendah, itulah aturan yang ditetapkan atas air. Begitupun dengan
manusia peraturan yang harus ditegakkan di alam manusia adalah aturan-aturan Al
Quran. Itulah bentuk Alloh sebagai Sang Pengatur.
Malik
Peranan Alloh
sebagai malik yaitu peranan dia yang menguasai seluruh alam semesta, yang
memiliki alam semesta, tidak terkecuali manusia yang ada didalamnya, seantero
alam semesta adalah kerajaannya. Peranan Alloh sebagai sang Malik adalah dalam
rangka Alloh ingin memberlakukan aturan-aturannya. Wilayah yang begitu luas
dapat dikontrol dengan kekuasaannya. Bentuk Alloh berkuasa atas manusia adalah
dengan Alloh mengutus rosul Nya untuk memberlakukan aturan Alloh.
Illah
Peranan Alloh
sebagai Illah ditandai dengan perilaku alam semesta yang sama sekali tidak
pernah berubah dari zaman dulu hingga saat ini. Alloh menjadi pusat segala
peribadatan, semua makhluk beribadah karena aturan yang diberlakukan kepadanya.
Begitupula dengan manusia, yang secara fisiknya taat kepada Alloh. Semisal,
jantung manusia berdetak bukan karena tunduk pada aturan manusia, tapi tunduk
kepada aturan Alloh yang diberlakukan pada jantung tersebut.
Seperti inilah
manusia percaya kepada Alloh, yaitu percaya adanya peranan Alloh yang berlaku
di alam semesta ini. Setelah kita mengenal Alloh maka kita dapat ,mendefinisikan
seperti apa yang dimaksud dengan kemusyrikan.
Definisi Musyrik
kepada Alloh
Alloh telah
mendefinisikan Musyrik didalam Al quran Qs. 4/60
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku
dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang
diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal
mereka Telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud
menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.
Secara definisinya berdasarkan Alquran, musyrik adalah
mengaku beriman kepada Alloh tapi berhakim kepada thogut. Alloh mengistilahkan
sesuatu yang dipersekutukan manusia disamping Alloh dengan istilah thogut. Apa
sebenarnya makna dari kata thogut, thogut secara bahasa berasal dari kata
“Thogo” yang memiliki makna “melampaui batas” Qs. 79/17
"Pergilah
kamu kepada Fir'aun, Sesungguhnya dia Telah melampaui batas”
Didalam ayat tersebut asangat jelas bahwa thogo adalah
suatu karakter orang yang melampaui batas, yang dalam ayat diatas diceritakan
seorang firaun adalah tokoh berkarakter Thogo. Perlu kita selidiki apa sebab
seorang firaun dicontohkan Alloh sebagai orang yang melampaui batas Qs. 79/24
(Seraya) berkata:"Akulah Robb yang paling
tinggi".
Ternyata penyebab Alloh menjadikan contoh orang yang
melampaui batas karena dirinya mengaku sebagai Robb, yaitu pernan Alloh sebagai
sang Pengatur. Jadi berdasarkan sejarahnya Firaun adalah seorang pembuat aturan
di negeri Mesir pada saat itu. Seharusnya Firaun sebagai seorang manusia ciptaan
Alloh tunduk terhadap aturan penciptanya namun justru Firaun malah membuat
aturan untuk diterapkan pada rakyatnya. Sehingga dia disebut orang yang
melampaui batas.
Ketika Firaun membuat aturan di negeri Mesir, maka Firaun
ingin aturannnya diberlakukan kepada seluruh rakyat Mesir. Maka Firaun dengan
kekuasaannya memaksa rakyat Mesir tunduk pada aturan dan kekuasaannya. Sehingga
Firaun melampaui batas peranan Alloh sebagai Malik. Maka Firaun menjadi
penguasa tunggal di Mesir, karena tanpa kekuasaannya Firaun tidak dapat
memberlakukan aturan buatannya.
Dengan kekuasaanya Firaun dapat memaksa semua Penduduk
Mesir untuk tunduk kepadanya, baik secara sukarela maupun terpaksa. Sehingga
Firaun menjadi sentral peribadatan, artinya semua bekerja berdasarkan tatacara
yang diinginkan Firaun bukan Alloh. Sehingga Firaun melampaui batas peranan
Alloh sebagai Illah.
Jika Al Quran sedang bercerita tentang sejarah Firaun
maka kita harus berpikir adakah orang seperti Firaun saat ini?. Orang yang
membuat aturan selain Alloh, yang menegakkan hukum bukan hukumnya Alloh. Maka
apabila saat ini ada orang yang pekerjaannya seperti Firaun maka itulah Thogut.
Jadi Thogut bukanlah patung karena Thogut adalah tempat kemana manusia meminta
hukum. Sebab tidak ada manusia yang minta hukum kepada patung. Nah kemudian
siapakah orang yang musyrik. Orang yang musyrik adalah orang yang tunduk
terhadap hukum bukan bikinan Alloh. Mereka mengaku iman kepada Alloh hanya di mulut
saja namun hatinya tunduk terhadap hukum manusia. Hal itu disebabkan adanya
ulah syetan yang selalul menyesatkan manusia, sehingga secara tidak sadar
manusia sudah dholalan baida (sesat sejauh-jauhnya), sebagaimana tertulis
dalam ayat Al Quran Qs. 4/60
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku
dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang
diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka
Telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan
mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.
Ciri-ciri Kemusyrikan
Ciri-ciri yang dapat dilihat dari kebiasaan orang musyrik yaitu ada
tertulis disurat Qs. 30/31-32
Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah
kepada-Nya serta Dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Allah,
Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka
menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada
pada golongan mereka.
Telah dikatakan bahwa ciri-ciri kemusyrikan yaitu adalah
yang memecah belah agama menjadi beberapa golongan.
Pada dasarnya dahulu Alloh menurunkan agama yang tauhid
yaitu Islam kepada Ibrahim yang kemudian agama Islam itu wasiatkan kepada
keturunan Ibrahim yaitu Musa, Isa, dan Muhammad. Namun seiring berjalannya
waktu para pengikutnya memecah belah agama
Islam tersebut menjadi beberapa golongan ada Yahudi, Kristen, dan Islam.
Jadi yang semula bersumber dari Millata Ibrahim berpecah menjadi beberapa
golongan yang masing-masing golongan merasa benar.
Apabila manusia masih terjebak dalam kondisi kemusyrikan
maka manusia itu sedang terjerumus dalam dosa yang besar. Dan segala ibadah
yang dia laksanakan tidak berguna karena kelakuannya menduakan Alloh. Qs. 4/48
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan
dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah
berbuat dosa yang besar.
Qs. 4/88
Itulah petunjuk Allah, yang dengannya dia memberi
petunjuk kepada siapa yang dikehendakinya di antara hamba-hambaNya. seandainya
mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang Telah
mereka kerjakan.
Jika kita telah merasa diri kita terjebak dalam kondisi
kemusyrikan maka sudah seharusnya kita keluar dari kondisi tersebut. Karena
sangat jelas konsekwensi yang ditanggung. Maka dengan kesadaran kita harus
mengikuti jalan yang benar, yaitu jalan berdasarkan yang tertulis dalam
Kitabulloh dan Sunnah Rosul yang telah di contohkan. Dahulu Rosululloh pernah
memberikan contoh bagaimana caranya keluar dari kondisi tersesat sehingga
mendapat petunjuk. Qs 93/6-8
6. Bukankah dia
mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu dia melindungimu?
7. Dan dia
mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu dia memberikan petunjuk.
8. Dan dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan,
lalu dia memberikan kecukupan.
Uzlah sebagai Jalan Keluar
Cara tersebut yaitu dengan cara Uzlah artinya
meninggalkan Aqidah musyrik, berpindah dari kondisi yang musyrik karena tidak
ada petunjuk dari Alloh kemudian pada usia 40 tahun Rosululloh mendapat
petunjuk. Inilah yang patut ditiru. Dan inipun satu-satunya cara mengeluarkan
manusia dari kondisi tersesat oleh setan. Alloh telah memerintahkan manusia
untuk mencontoh Rosululloh jika ingin beribadah dengan benar kepada Alloh.
Karena dengan mengikuti contoh rosul maka segala kesalahan kita kepada Alloh
akan diampuni. Qs 33/21 dan 3/31
21. Sesungguhnya
Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat
dan dia banyak menyebut Allah.
31. Katakanlah:
"Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
Metode Uzlah yang pernah dilakukan oleh Rosul yaitu
adalah dengan masuk kedalam gua. Dalam sejarah rosul dahulu pernah masuk
kedalam Gua Hira’ dan meniru cara Ashabul Kahfi agar mendapat petunjuk dari
Alloh. Qs. 18/16
Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka
sembah selain Allah, Maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya
Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu
yang berguna bagimu dalam urusan kamu.
Gua yang dimaksud disini bukan gua sebenarnya tetapi gua
konsep yaitu gua sebagai tempat melindungi pola pikir yang tauhid, yang iman
kepada Alloh saja dari pola pikir musyrik, yaitu pola pikir mendua dari Alloh.
Jadi maksudnya bersembunyi menutupi aqidah kebenaran (menjadi orang beriman). Inilah
esensi dari masuk gua.
Dalam proses masuk gua atau menjadi orang beriman
memiliki syarat yang harus dilaksanakan terlebih dahulu yaitu izin kepada
Alloh. Izin ini dalam rangka kita meminta ridho Alloh agar diterima menjadi
Ummat Nya. Tidak ada orang yang beriman jika belum pernah memohon izin kepada
Alloh. Qs.10/100
Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin
Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak
mempergunakan akalnya.
Dalam memperoleh izin dari Alloh ini manusia harus
menyatakan suatu perjanjian dalam bahasa Arab di Istilahkan dengan kata Mitsaq.
Mitsaq ini sifatnya mengikat, karena berfungsi sebagai pondasi dari Aqidah
Mu’min, sifatnya pondasikan harus kuat. Sehingga jika kita telah mengikat
perjanjian dengan Alloh maka inilah langkah awal menjadi manusia yang baru
terlahir menjadi orang Mu’min. proses mengikat perjanjian dengan Alloh seperti
ini sebenarnya sering dilakukan dan sudah menjadi tradisi bagi para Nabi, Rosul
dan Ummatnya. Qs. 33/7
Dan (Ingatlah) ketika kami mengambil perjanjian dari
nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam,
dan kami Telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.
Setelah kita melaksanakan Mitsaq ini baru kita terdaftar
oleh Alloh sebagai orang mu’min, karena seorang itu dikatakan beriman jika
telah memperoleh izin dari dengan cara mengikat perjanjian atau Mitsaq. Qs 57/8
Dan Mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul
menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. dan Sesungguhnya dia Telah
mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman.
Sekarang jalan sudah terbentang jelas didepan kita apakah
kita mau menapaki jalan ini atau tidak itu suatu pilihan yang harus dipikirkan
masak-masak agar kita tidak menyesal seumur hidup. Yang jelas dalam menentukan
suatu pilihan Alloh tidak memaksakan kehendak Nya kepada manusia. Alloh hanya
memberikan gambaran kedepan bagaimana kondisi jalan untuk mencari ridhonya dan
jalan yang dimurkainya. Qs. 2/256
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);
Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu
barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka
Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak
akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
Comments
Post a Comment